Breaking News
Debat Publik Pertama Pilkada Lamongan 2020 Tak Menarik!

Debat Publik Pertama Pilkada Lamongan 2020 Tak Menarik!

Penulis: Yepta Adiarta

Seperti yang kita tahu bersama, Lamongan akan menyelenggarakan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati pada 9 Desember 2020.

Dari segi calon sendiri, ada 3 kandidat yang akan bertarung dalam pemilihan 9 Desember nanti, dimana ada 2 pasangan calon yang diusung oleh Partai, sementara 1 pasangan calon maju lewat jalur independen.

Masyarakat sebenarnya cukup antusias untuk menanti siapa yang akan memenangkan kontestasi Pilkada Lamongan 2020 nanti, mengingat ketiga paslon adalah orang yang sebelumnya banyak dikenal oleh sebagian masyarakat lamongan sendiri.

Apalagi tidak ada pasangan incumbent dalam pemilihan Kepala Daerah kali ini, sehingga relatif pertarungan perebutan kursi Bupati dan Wakil Bupati Lamongan nanti akan berlangsung sengit.

Pada sabtu, 14 November 2020 kemarin, ketiga paslon telah melakukan sesi debat pertama Pilkada Lamongan yang dilangsungkan di studio JTV surabaya.

Banyak masyarakat yang sebenarnya antusias menyaksikan debat Publik pertama ini untuk melihat siapa yang layak untuk dipilih dalam pemilihan Kepala Daerah lamongan nanti.

Namun sepertinya, melihat hasil debat pertama Pilkada Lamongan sabtu lalu banyak masyarakat yang masih ragu menentukan pilihan, khususnya para swing voters yang notabenya adalah pemilih rasional yang dapat berubah pilihan sesuai dengan ide atau gagasan yang menurut mereka layak untuk diperjuangkan.

Ada beberapa catatan yang semestinya dijadikan evaluasi oleh masing-masing pasangan calon berdasarkan hasil debat pertama dua hari lalu, diantaranya:

  1. Debat berjalan monoton, membosankan dan terkesan hafalan, Sehingga banyak yang kurang selaras antara pertanyaan dan tanggapan masing-masing paslon.
  2. Sangat terlihat paslon yang hanya menjadikan wakil hanya sebagai pendulang suara golongan tertentu, bisa dilihat dari yang lebih aktif dan memahami persoalan hanya calon bupatinya saja, artinya antara calon bupati dan calon wakil bupati kurang ada keselarasan terkait materi debat.
  3. Janji politik lebih dominan menjadikan uang/ insentif sebagai alat utama meraih suara terbanyak, terkesan usang dan hanya terlihat sebagai janji manis untuk meraih suara lebih banyak.
  4. masih belum nampak program kerja masing-masing paslon yang melibatkan/ menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat secara umum, harusnya strategi yang direncanakan lebih banyak melibatkan peran aktif masyarakat untuk bisa berdaya dan mandiri, apalagi dalam situasi pandemi yang sepertinya masih akan berlangsung dalam beberapa waktu kedepan.

Memang tidak mudah untuk mempredikasi situasi politik akhir-akhir ini, khususnya di lamongan yang ketiga paslonnya merupakan calon baru atau tidak ada incumbent.

Namun demikian, rasanya masyarakat juga semakin cerdas seiring berjalannya waktu, mana yang nantinya akan mereka jadikan pilihan terbaik untuk memimpin Lamongan di periode mendatang. Tentu harapan besar berada di pundak masing-masing pasangan calon siapapun yang terpilih nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>