Breaking News

MERAJUT PERSATUAN DALAM PERBEDAAN

gambar: Google.com

gambar: Google.com

oleh: M. Yepta Adiarta

74 Tahun sudah Indonesia menjadi bangsa yang bebas dari penindasan penjajah (Merdeka), tapi apa sejatinya arti dari merdeka? Apakah mereka yang masih berjuang hanya untuk sekedar mempertahankan hidup pantas disebut merdeka.

Sejatinya merdeka yang sesungguhnya tidak hanya terbebas dari penjajah saja, justru bangsa ini baru memulai perjuangannya 74 tahun silam, tepatnya 17 Agustus 1945 saat Ir. Soekarno atau yang akrab dipanggil Bung Karno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta membacakan teks proklamasi yang bertempat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

Musuh terbesar  bagi Bangsa ini adalah rakyat kita sendiri, bagaimana tidak, kita memang sudah terbebas dari para penjajah, tapi saat ini kita justru dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan yang bisa merusak dan menghancurkan bangsa kita sendiri seperti: kasus korupsi yang meraja lela, politik praktis yang menggunakan cara-cara kotor atau bahkan yang sedang ramai diperbincangkan oleh khalayak umum sekarang ini yaitu munculnya HOAX/ berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Di era modernisasi seperti sekarang ini, lidah lebih tajam dari pada pedang memang benar adanya. Seperti yang banyak kita lihat di negara-negara timur tengah belakangan ini, bagaimana Negara bisa hancur hanya karena sekelompok orang yang menggunakan isu/konflik SARA ( Suku, Agama, Ras dan juga Antar golongan) untuk merebut kekuasaan.

Bayangkan, bagaimana anak kecil, orang tua dan orang-orang yang tak bersalah lainnya harus hidup dengan penderitaan di tanah kelahirannya sendiri karena kepentingan sekelompok orang yang menggunakan isu SARA untuk merebut kekuasaan.

Tentu kita tidak ingin hal tersebut terjadi pada Negara kita tercinta Indonesia. Melihat betapa hebatnya Bangsa ini dengan segala kekayaan dan keindahan alam yang ada, ingin menangis rasanya jika masih ada orang yang ingin menghancurkan negara ini hanya demi kepentingan satu golongan saja.

Para pendahulu pejuang Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah bersusah payah untuk membangun ideologi bangsa ini dengan penuh perasaan yang tertuang dalam 4 pilar kebangsaan yang memiliki makna mendalam, yaitu: Pancasila, Undang-Undang Dasar, NKRI dan juga Bhinneka Tunggal Ika.

Tentu tidak mudah untuk mempersatukan Negara dengan jumlah penduduk 260 Juta jiwa dengan 17.504 Pulau, 1340 Suku Bangsa dan 546 Bahasa. Dibutuhkan niat, tekad dan semangat persatuan yang sama.

Menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-74, mari bersama untuk  mempererat persatuan, bersama-sama untuk membangun bangsa untuk mulai beranjak menuju Indonesia yang unggul.

Di akhir tulisan ini, penulis ingin mengutip kata-kata dari Presiden Republik Indonesia pertama yang berbunyi “Bangunlah suatu dunia dimana semuanya bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan”, kata-kata tersebut sangat bermakna mendalam apabila kita melihat realita kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang yang saling berebut kekuasaan tanpa memikirkan kaum minoritas, agar kita selalu ingat  bahwa bangsa ini milik seluruh rakyat Indonesia dengan segala keindahan dan kekayaan alam yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>