Breaking News

MEMBANGUN MASYARAKAT TOLERAN

gambar: google.com

gambar: google.com

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita dibenturkan dengan permasalahan-permasalahan yang menimbulkan perbedaan. Akhir-akhir ini misalnya, perbedaan pilihan politik yang seharusnya bisa disikapi dengan rasa saling menghormati, justru menjadi boomerang bagi sebagian masyarakat yang terlalu fanatik dengan salah satu pihak.
Fanatisme sendiri akan berdampak fatal apabila terus dibiarkan, karena ketika seseorang fanatik terhadap suatu hal, bisa jadi seseorang akan membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah atau bahkan menyalahkan suatu hal yang sebenarnya benar. Dalam suatu negara yang menjunjung tinggi prinsip demokrasi tentu ini akan berbahaya bagi keutuhan dan persatuan bangsa.
Tindakan fanatisme ini sama sekali tidak cocok untuk diterapkan pada masyarakat Indonesia yang multikultur. Pluralisme dan kemajemukan telah mewarnai bangsa ini, bahkan jauh sebelum Republik Indonesia terbentuk. Pada saat tokoh-tokoh bangsa merumuskan Pancasila, mereka memahami betul bahwa pluralisme telah ada, namun mereka memiliki kesadaran untuk bersatu dalam sebuah perbedaan, dan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Eli Susanti (2011), konsep pluralisme sendiri memiliki beberapa perspektif: sosial, budaya, maupun politik. Dalam perspektif sosial, pluralisme menangkal dominasi dan hegemoni kelompok atau aliran keagamaan tertentu. Pluralisme budaya mencegah hilangnya satu aliran budaya/agama karena dilenyapkan oleh aliran keagamaan arus utama yang hegemonis. Adapun pluralisme politik merupakan dasar bagi jaminan kebebasan untuk berkeyakinan dan berekspresi tanpa rasa takut akan ancaman kekerasan, karena adanya lembaga pengelola konflik kepentingan antar aliran keagamaan.
Jika kita cermati lebih dalam, masalah-masalah yang timbul akhir-akhir ini banyak di dominasi oleh kepentingan-kepentingan politik. Padahal kita tahu bahwa dunia politik sangat dinamis, suatu saat kawan bisa jadi lawan atau bahkan lawanpun bisa jadi kawan, hal ini memang lumrah terjadi karena sejatinya politik adalah masalah kepentingan, sehingga kita harus cermat mana yang mementingkan masyarakat, dan mana yang justru mementingkan suatu golongan/ kelompok saja.
Jadi bisa kita simpulkan Bersama bahwa fanatisme dalam segi apapun tidak dibenarkan, khususnya dalam dunia politik yang sangat dinamis. Konsep-konsep pluralisme dan juga Bhinneka Tunggal Ika yang menghargai perbedaan sebagai bentuk keberagaman berbangsa dan bernegara harus bisa dipahami Bersama agar tidak timbul perpecahan di kemudian hari.
Oleh: M. Yepta Adiarta
21 Februari 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>